Gold prices of PT Aneka Tambang (Antam) surpassed Rp3 million per gram on Wednesday (22/1/2026). This sharp increase once again underscores gold’s appeal as a safe-haven asset amid rising global economic and geopolitical uncertainty. Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) views this strengthening as consistent with gold’s historical pattern, which has tended to rise whenever uncertainty intensifies.
Research Director of Prasasti, Gundy Cahyadi, said gold is not just an ordinary commodity. “It is not merely a commodity, but a store of value trusted across generations, regimes, and economic cycles,” he said. According to him, gold’s future trend still has a fairly strong foundation, although short-term volatility will remain.
Gundy explained that there are three main factors influencing gold prices: inflation, global interest rates, and geopolitical uncertainty. When conflicts escalate and systemic risks rise, trust in global financial stability weakens. At that point, investors look for assets that do not depend on the credibility of a single country or currency, and that is where gold takes its role.
Global interest rates remain an important factor. High interest rates tend to curb demand for gold in the short term because gold does not provide yield. However, when markets see that the tightening cycle is nearing its peak or recession risks are rising, gold becomes relevant again as a hedge.
Inflation plays more of a supporting role. It strengthens gold’s position especially when it moves alongside political uncertainty or broader global tensions. In such conditions, gold is perceived as a tool to protect purchasing power.
Data from 2025 reinforces this narrative. Gold prices rose by around the low-teens percentage, driven by rising geopolitical tensions in the Middle East and continued pressure on the US dollar. The combination of political risk and weakening confidence in major global currencies has once again lifted gold’s appeal among investors.
Gundy emphasized that gold is now positioned not only as a short-term speculative instrument, but as an insurance asset to protect purchasing power and portfolio stability. “When uncertainty becomes the norm, trust becomes more expensive. And as long as that happens, gold will remain relevant,” he concluded.
***
Harga Emas Tembus Rp3 Juta, Prasasti: Ketidakpastian Global Angkat Daya Tarik Emas
Harga emas PT Aneka Tambang (Antam) menembus Rp3 juta per gram pada Rabu (22/1/2026). Kenaikan tajam ini kembali menegaskan daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menilai penguatan ini sejalan dengan karakter emas yang secara historis hampir selalu naik ketika ketidakpastian meningkat.
“Emas bukan sekadar komoditas biasa, tetapi penyimpan nilai yang dipercaya lintas generasi, lintas zaman, dan lintas siklus ekonomi,” ujar Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi. Menurutnya, tren emas ke depan masih memiliki fondasi yang cukup kuat meski tetap diwarnai volatilitas jangka pendek.
Gundy menjelaskan ada tiga faktor utama yang mempengaruhi pergerakan emas, yakni inflasi, suku bunga global, dan ketidakpastian geopolitik. Ketika konflik meningkat dan risiko sistemik naik, kepercayaan terhadap stabilitas keuangan global melemah. Di saat itulah investor mencari aset yang tidak bergantung pada satu negara atau mata uang tertentu, dan emas mengambil peran tersebut.
Suku bunga global tetap menjadi faktor penting. Suku bunga yang tinggi memang menahan minat terhadap emas dalam jangka pendek karena emas tidak memberikan imbal hasil. Namun ketika pasar melihat siklus pengetatan mendekati puncaknya atau risiko resesi meningkat, emas kembali relevan sebagai lindung nilai.
Inflasi lebih berperan sebagai faktor pendukung. Inflasi menguatkan posisi emas terutama ketika berjalan beriringan dengan ketidakpastian politik atau ketegangan global yang lebih luas. Dalam kondisi seperti itu, emas dipersepsikan sebagai alat untuk melindungi daya beli.
Data 2025 memperkuat narasi tersebut. Harga emas tercatat naik sekitar belasan persen, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta tekanan terhadap dolar AS. Kombinasi risiko politik dan melemahnya kepercayaan pada mata uang utama global kembali mengangkat daya tarik emas di mata investor.
Gundy menegaskan emas kini tidak hanya diposisikan sebagai alat spekulasi jangka pendek, melainkan sebagai insurance asset untuk menjaga daya beli dan stabilitas portofolio. “Ketika ketidakpastian menjadi norma, nilai kepercayaan menjadi semakin mahal. Dan selama itu terjadi, emas akan tetap relevan,” tutupnya.