Economy

Government Views Gold as Key Safe-Haven for Middle-Class Investors Amid Price Surge

Government Views Gold as Key Safe-Haven for Middle-Class Investors Amid Price Surge

Prasasti Pulse
January 2026
Government Views Gold as Key Safe-Haven for Middle-Class Investors Amid Price Surge

Gold bars from PT Aneka Tambang (Antam) surged again, reaching IDR3 million per gram. The rise reflects growing public interest in gold, particularly among middle-class investors seeking to protect the value of their wealth amid increasing global economic and geopolitical uncertainty.

The continued strengthening of gold prices alongside rising public demand highlights its enduring perception as a safe-haven asset. Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) notes that gold is a relatively straightforward choice, considered capable of preserving purchasing power, especially for the middle class during uncertain economic conditions.

From a policy perspective, the government views gold as a legitimate and relevant hedging instrument for the public. Gold is seen as simple in nature, easily accessible, and relatively resilient to extreme shocks, making it a natural defensive option amid global market volatility.

However, the government also emphasizes that gold is not a standalone solution for investment needs. It is not intended to replace productive savings, real-sector investments, or financial instruments that deepen market development. Accordingly, policy positions gold as a complementary tool within a healthy wealth management strategy, rather than an end goal. Public education is therefore crucial so that individuals understand the role of gold proportionally within their portfolios.

This view aligns with the assessment of Prasasti’s Research Director, Gundy Cahyadi, who stressed that gold works most effectively as part of a diversified portfolio. “Gold is not meant to replace all other instruments. It functions as a buffer when risks rise, not as the sole investment objective,” he said.

According to Gundy, the shift of some funds into gold generally reflects a rational response to a global environment full of uncertainty. This does not necessarily indicate weakening confidence in the financial system, but rather an effort to balance security and growth. “What usually happens is not a complete shift, but an adjustment of asset composition. Gold serves as a stability anchor, while other instruments continue to generate growth,” he explained.

Gundy cautioned that gold’s hedging function can be lost if purchased impulsively or simply following trends. “If gold is bought with the expectation of quick profit, it turns into a speculative instrument. Its main role is to mitigate risk, not chase returns,” he concluded.

***

Pemerintah Pandang Emas sebagai Aset Pelindung bagi Kelas Menengah di Tengah Lonjakan Harga

Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) kembali melonjak dan menembus level Rp3 juta per gram, Rabu (22/01/2025). Kenaikan ini mencerminkan menguatnya minat publik terhadap emas, terutama dari kelompok kelas menengah yang ingin melindungi nilai kekayaannya di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Harga emas yang terus menguat seiring dengan meningkatnya minat publik terhadap aset ini menunjukkan bahwa emas masih dipersepsikan sebagai tempat berlindung yang aman. Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) melihat emas menjadi pilihan yang relatif mudah dipahami dan dianggap mampu menjaga daya beli ketika kondisi ekonomi tidak menentu terutama bagi kelas menengah.

Dalam konteks kebijakan, pemerintah memandang emas sebagai salah satu instrumen pelindung nilai yang sah dan relevan bagi masyarakat. Emas dinilai memiliki karakter sederhana, mudah diakses, dan relatif tahan terhadap guncangan ekstrem, sehingga wajar jika ia menjadi pilihan defensif di tengah volatilitas global.

Namun, pemerintah juga menekankan bahwa emas bukanlah jawaban tunggal bagi kebutuhan investasi. Emas tidak dimaksudkan untuk menggantikan tabungan produktif, investasi riil, maupun instrumen keuangan yang mendorong pendalaman pasar keuangan. Karena itu, kebijakan menempatkan emas sebagai pelengkap dalam strategi pengelolaan kekayaan yang sehat, bukan sebagai tujuan akhir. Edukasi publik menjadi sangat penting agar masyarakat memahami fungsi emas secara proporsional dalam portofolio mereka.

Pandangan ini sejalan dengan penilaian Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi. Ia menegaskan bahwa emas bekerja paling efektif ketika menjadi bagian dari portofolio yang beragam. “Emas itu bukan untuk menggantikan semua instrumen lain. Ia berfungsi sebagai penyangga ketika risiko membesar, bukan sebagai satu-satunya tujuan investasi,” ujarnya.

Menurut Gundy, pergeseran sebagian dana ke emas umumnya merupakan respons rasional terhadap situasi global yang penuh ketidakpastian. Hal itu tidak serta-merta menunjukkan melemahnya kepercayaan pada sistem keuangan, melainkan upaya menjaga keseimbangan antara keamanan dan pertumbuhan. “Yang terjadi biasanya bukan pindah total, tetapi penyesuaian komposisi aset. Emas menjadi jangkar stabilitas, sementara instrumen lain tetap berperan menciptakan pertumbuhan nilai,” jelasnya.

Gundy mengingatkan, fungsi lindung nilai emas justru bisa hilang jika dibeli secara impulsif atau hanya mengikuti tren. “Kalau emas dibeli dengan harapan untung cepat, ia berubah menjadi alat spekulasi. Padahal peran utamanya justru untuk meredam risiko, bukan mengejarnya,” tutupnya.